Opini  

Membidas Kebohongan-Kebohongan Semiotis

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Kita mengenal seseorang yang selalu mengunggah kebersamaan keluarga, tetapi tidak mengetahui bagaimana ia memperlakukan anggota keluarganya ketika kamera dimatikan. Kita melihat seseorang berbicara tentang kepedulian sosial, tetapi tidak selalu mengetahui apakah kepedulian itu hadir dalam tindakan sehari-hari. Kita membaca unggahan tentang kesehatan mental, healing, atau inner child, tetapi tidak dapat menyimpulkan kematangan emosional seseorang hanya berdasarkan penguasaan istilah-istilah tersebut. Bahasa psikologi dapat membantu manusia memahami pengalaman batinnya, tetapi juga dapat disalahgunakan untuk membenarkan perilaku yang menyakiti orang lain atau menghindari tanggung jawab.

Misalnya, seseorang yang telah melanggar kesepakatan dalam sebuah hubungan mengatakan bahwa ia sedang berusaha menyembuhkan luka masa lalunya. Pengalaman traumatis memang dapat memengaruhi cara seseorang membangun relasi, dan memahami pengalaman itu merupakan hal penting. Namun, penjelasan tentang luka masa lalu tidak otomatis menghapus dampak tindakan terhadap orang lain. Ketika istilah psikologis digunakan untuk menutup percakapan, menghindari pertanggungjawaban, atau membuat pihak lain merasa bersalah sebab mempertanyakan perilaku yang merugikan, bahasa pemulihan telah bergeser menjadi alat pembenaran. Kita perlu membedakan antara memahami seseorang dan membebaskannya dari tanggung jawab atas tindakannya.

READ -  Menolak Pilkada Tidak Langsung: Tidak Senada dengan Esensi Demokrasi