Opini  

Mendidik Generasi Alfa dengan Perhatian yang Terdistraksi

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Beberapa minggu lalu, seorang kawan bercerita kepada saya tentang pengalaman mengajarnya di salah satu lembaga pendidikan yang cukup bonafide di Kota Bandung. Ia bercerita bahwa di lembaga tersebut setiap pembelajaran selesai, siswa diminta memberikan penilaian terhadap guru melalui sejumlah aspek, mulai dari cara berpakaian, penggunaan bahasa, penguasaan materi, interaksi dengan siswa, hingga cara guru melaksanakan pembelajaran.

Pada dasarnya ia tidak keberatan dengan mekanisme semacam itu. Menurutnya, guru memang membutuhkan umpan balik dari peserta didik sebab ada banyak hal yang mungkin tidak disadari ketika seseorang sedang berada di depan kelas. Penilaian siswa dapat menjadi cermin untuk melakukan refleksi, selama ia tidak diperlakukan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan seorang guru.

READ -  Deretan Komplotan DPR RI Pemakan Gaji Buta dari Dapil Madura

Namun, suatu hari ia mengalami sesuatu yang membuat mekanisme tersebut terasa berbeda. Ketika pembelajaran sedang berlangsung, ia melihat seorang siswa bermain telepon genggam. Ia kemudian menegurnya dan meminta agar telepon tersebut disimpan terlebih dahulu sehingga perhatian siswa dapat diarahkan kepada pembelajaran.

Teguran itu, menurut ceritanya, tidak dilakukan dengan cara yang keras atau bermaksud mempermalukan. Ia hanya merasa bahwa menjaga perhatian siswa merupakan bagian dari tanggung jawab guru terhadap kelas. Setelah itu pembelajaran berlangsung seperti biasa dan ia mengira persoalan telah selesai.