Opini  

Membidas Kebohongan-Kebohongan Semiotis

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Kebohongan tidak selalu hadir melalui kalimat yang bertentangan dengan kenyataan. Dalam kehidupan sehari-hari, kebohongan justru kerap menemukan bentuknya melalui sesuatu yang tampak wajar, menyenangkan, bahkan mengagumkan. Seseorang dapat berbohong tanpa mengucapkan satu pun kalimat palsu, cukup dengan menata penampilan, memilih kata-kata yang tepat, dan menghadirkan gestur yang membuat orang lain percaya. Di hadapan situasi semacam itu, persoalan kejujuran tidak lagi hanya berkaitan dengan benar atau salahnya sebuah pernyataan, tetapi juga dengan cara tanda-tanda digunakan untuk membangun kesan tentang seseorang.

Saya tertarik membaca gejala ini melalui semiotika, terutama ketika tanda-tanda yang semestinya membantu manusia memahami kenyataan justru digunakan untuk menutupi kenyataan itu sendiri. Kita hidup di tengah kebudayaan yang memberi tempat istimewa kepada representasi. Foto dapat dianggap sebagai bukti kebahagiaan, kutipan puisi sebagai pertanda kedalaman perasaan, pakaian tertentu sebagai penanda intelektualitas, dan bahasa keagamaan sebagai jaminan kesalehan. Padahal, tanda tidak selalu membawa kita kepada kebenaran. Ia dapat menerangkan sesuatu, tetapi dapat pula mengaburkannya. Di antara kedua kemungkinan itulah kebohongan-kebohongan semiotis bekerja.

READ -  Mengadili Abad ke-7 dengan Moralitas Abad ke-21: Sebuah Kekeliruan Sejarah

Istilah buaya darat, misalnya, dapat digunakan untuk membaca salah satu bentuk manipulasi tanda dalam hubungan romantis. Sebutan ini biasanya dilekatkan kepada laki-laki yang gemar merayu atau menjalin kedekatan dengan banyak perempuan tanpa kesungguhan yang sepadan. Namun, persoalannya menjadi lebih menarik ketika kita tidak berhenti pada perilaku merayu, melainkan memeriksa bagaimana rayuan dibangun melalui sistem tanda. Seorang perayu dapat memahami bahwa perhatian, puisi, lagu, hadiah, dan ungkapan kerinduan memiliki daya tertentu dalam membentuk persepsi. Ia tidak sekadar menyampaikan perasaan, tetapi juga mengatur bagaimana dirinya ingin dibaca oleh orang lain.