Dalam kerangka semiotika Charles Sanders Peirce, tanda dapat dipahami melalui hubungan antara representamen, objek, dan interpretan. Sesuatu menjadi tanda ketika ia mewakili sesuatu yang lain dan menghasilkan pemaknaan dalam benak penafsir. Sebuah bunga yang diberikan kepada seseorang, misalnya, dapat dimaknai sebagai ungkapan kasih sayang. Akan tetapi, bunga itu tidak dengan sendirinya membuktikan ketulusan orang yang memberikannya. Makna muncul melalui hubungan antara tanda, konteks, dan penafsiran. Orang yang menerima bunga mungkin melihatnya sebagai perhatian yang tulus, sedangkan orang yang memberikannya mungkin sekadar menjalankan strategi untuk memperoleh kedekatan.
Di sinilah persoalan semiotis menjadi penting. Bunga bukan kebohongan, sebagaimana puisi bukan penipuan dan lagu romantis bukan manipulasi dengan sendirinya. Kebohongan muncul ketika tanda sengaja digunakan untuk membangun kesan yang bertentangan dengan maksud atau perilaku sebenarnya. Seseorang dapat memberikan hadiah dengan tulus, tetapi seseorang yang lain dapat menggunakan hadiah yang sama untuk memperoleh kepercayaan tanpa kesediaan memenuhi tanggung jawab emosional yang menyertainya. Objeknya serupa, tandanya mungkin sama, tetapi konteks penggunaannya menghasilkan persoalan etis yang berbeda.
Kita dapat melihat gejala tersebut dalam percakapan digital. Seseorang mengirimkan pesan, “Aku memikirkanmu sejak tadi,” disertai lagu yang liriknya berbicara tentang kesetiaan. Pada kesempatan lain, ia mengirimkan kutipan puisi tentang rindu, lengkap dengan tanda baca yang disusun sedemikian rupa agar tampak intim. Penerima pesan mungkin merasa dirinya istimewa sebab bahasa yang digunakan terasa personal. Namun, ketika ungkapan serupa ternyata dikirimkan kepada beberapa orang sekaligus, makna kedekatan itu berubah. Yang semula dipahami sebagai pengakuan personal ternyata merupakan pola komunikasi yang direplikasi.


