Opini  

Membidas Kebohongan-Kebohongan Semiotis

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Pola serupa dapat ditemukan dalam pembentukan citra intelektual. Seseorang mengunggah foto sedang membaca buku filsafat, menampilkan rak buku yang tersusun rapi, atau mengutip pemikiran tokoh besar dalam setiap percakapan. Semua itu dapat mencerminkan minat intelektual yang sungguh-sungguh. Namun, tanda-tanda tersebut juga dapat dipilih secara strategis untuk menghasilkan kesan terpelajar tanpa disertai kebiasaan membaca secara mendalam atau kesediaan menguji gagasannya sendiri. Buku kemudian berfungsi sebagai properti visual, sementara kutipan filsafat menjadi aksesori identitas.

Di media sosial, kita dapat melihat bagaimana satu foto perpustakaan, meja kerja dengan tumpukan buku, atau secangkir kopi di samping naskah dapat membangun narasi tentang seseorang yang tekun dan reflektif. Tidak ada yang keliru dengan membagikan aktivitas membaca atau menulis. Persoalannya muncul ketika citra intelektual sengaja dijadikan pengganti kompetensi. Seseorang tampak kritis sebab sering mengutip pemikir tertentu, tetapi menolak kritik ketika gagasannya dipertanyakan. Ia mengumpulkan tanda-tanda pengetahuan tanpa sungguh-sungguh menjalani disiplin berpikir yang menjadi dasar pengetahuan itu sendiri.

READ -  Membaca Pernyataan Rektor UTM dalam Perspektif Efektivitas Demokrasi

Dalam konteks ini, semiotika membantu kita memahami bahwa identitas sosial tidak hanya dibentuk oleh apa yang dilakukan seseorang, tetapi juga oleh bagaimana tindakannya ditampilkan dan ditafsirkan. Media sosial memperluas kemungkinan tersebut. Foto, story, caption, daftar lagu, kutipan buku, dan tanda kehadiran digital menjadi bagian dari representasi diri. Seseorang dapat memilih momen tertentu, mengatur sudut pengambilan gambar, menyunting kalimat, lalu menghadirkan versi dirinya yang paling sesuai dengan kesan yang ingin dibangun. Identitas digital dengan demikian bukan sekadar cerminan kehidupan, melainkan juga hasil seleksi dan penyusunan tanda.