Opini  

Membidas Kebohongan-Kebohongan Semiotis

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Kebohongan semiotis menjadi semakin rumit sebab manusia sendiri memiliki kecenderungan untuk mempercayai tanda-tanda yang sesuai dengan harapannya. Kita ingin percaya bahwa perhatian menandakan cinta, bahwa bahasa lembut menunjukkan kebaikan, atau bahwa seseorang yang terlihat religius pasti akan bertindak jujur. Harapan semacam itu bukan kelemahan yang perlu dipermalukan. Ia merupakan bagian dari kebutuhan manusia untuk membangun kepercayaan. Akan tetapi, kepercayaan menjadi rentan ketika penafsiran terhadap tanda tidak lagi diuji melalui pengalaman dan konsistensi perilaku.

Sebab itu, membidas kebohongan-kebohongan semiotis tidak berarti mencurigai setiap ungkapan cinta, setiap unggahan religius, atau setiap citra intelektual. Kecurigaan yang berlebihan justru dapat merusak kemampuan manusia untuk membangun hubungan yang sehat. Yang diperlukan ialah kecermatan membaca tanda, kesediaan mempertimbangkan konteks, dan keberanian membedakan antara kesan yang menyenangkan dengan bukti perilaku yang dapat diamati. Seseorang tidak perlu menolak puisi hanya sebab puisi dapat digunakan untuk merayu. Ia hanya perlu memahami bahwa keindahan bahasa tidak otomatis menjadi jaminan kejujuran penuturnya.

READ -  Meneropong Geopolitik Investasi di Bangkalan: Infrastruktur Jalan, Agraria Timpang, Warga Terancam

Dalam sastra, persoalan ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Tokoh-tokoh dalam karya sastra sering memperlihatkan jarak antara perkataan dan tindakan, antara citra yang dipelihara dan kenyataan yang disembunyikan. Seorang tokoh dapat tampil terhormat di hadapan masyarakat, tetapi menyimpan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang diucapkannya. Tokoh lain mungkin tampak kasar, tetapi justru menunjukkan kesetiaan melalui tindakan yang tidak banyak diumumkan. Kontras semacam itu membuat pembaca belajar bahwa karakter tidak dapat dipahami hanya dari dialog atau penampilan. Makna tokoh terbentuk melalui keseluruhan tindakan, relasi, konflik, dan konsekuensi yang hadir dalam cerita.