Pembacaan sastra dengan demikian dapat menjadi latihan semiotis. Kita belajar memeriksa tanda, mengenali ironi, memperhatikan konteks, dan tidak tergesa-gesa menerima penampilan sebagai kebenaran. Akan tetapi, membaca tanda juga menuntut tanggung jawab interpretatif. Tidak semua tindakan tersembunyi mengandung niat buruk, sebagaimana tidak semua ketidaksesuaian antara kata dan tindakan merupakan penipuan yang disengaja. Penafsiran perlu didasarkan pada konteks dan pola perilaku, bukan semata-mata prasangka.
Pada akhirnya, kebohongan-kebohongan semiotis memperlihatkan bahwa masalah manusia modern bukan kekurangan tanda, melainkan kecenderungan memperlakukan tanda sebagai pengganti kenyataan. Kita hidup di tengah bahasa yang melimpah, citra yang mudah diproduksi, dan simbol yang dapat diedarkan tanpa batas. Dalam situasi seperti itu, perhatian, kesalehan, kecerdasan, bahkan kerentanan emosional dapat dipertunjukkan sebagai identitas yang ingin dipercaya orang lain.
Membidas kebohongan tersebut berarti mengembalikan tanda kepada tanggung jawab maknanya. Kata cinta perlu dibaca bersama tindakan yang merawat; kata jujur perlu diperiksa melalui kesediaan berkata benar; dan bahasa religius perlu berkelindan dengan perilaku yang menghormati sesama. Tidak ada satu simbol pun yang dapat menjamin keseluruhan karakter seseorang. Kepercayaan tumbuh melalui waktu, konsistensi, dan kesediaan mempertanggungjawabkan tindakan.


