Opini  

Tacit Knowledge dan Ketakutan Menjadi Peneori

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Ada sesuatu yang barangkali perlu kita curigai dari cara kita memandang pengetahuan selama ini. Kita begitu mudah silau kepada teori yang datang dari Barat, seolah-olah pengetahuan selalu lahir dari ruang-ruang akademik yang jauh, dari universitas dengan perpustakaan yang luas, laboratorium yang lengkap, jurnal-jurnal bereputasi, serta nama-nama pemikir yang kemudian memenuhi halaman daftar pustaka penelitian kita.

Begitu sebuah gagasan memiliki istilah asing, kita sering buru-buru menganggapnya sebagai pengetahuan yang telah mapan; sebaliknya, ketika gagasan serupa tumbuh dari pengalaman masyarakat sendiri, berlangsung di sawah, di sungai, di dapur, di sanggar, di pesantren, di ruang kelas, atau di tangan seorang nelayan, kita kerap menyebutnya sekadar pengalaman, kebiasaan, tradisi, bahkan tidak jarang hanya sebagai kearifan lokal yang cukup didokumentasikan lalu dilestarikan.

READ -  Buta Hukum di Rumah Hukum: Saat Calon Elit Maskulinitas Toxic

Barangkali persoalannya bukan sebab kita tidak memiliki pengetahuan, melainkan sebab kita terlalu lama hidup dalam kebiasaan intelektual yang membuat kita lebih percaya kepada pengetahuan setelah ia diberi nama oleh teori, sementara pengalaman kita sendiri belum cukup sering kita perlakukan sebagai sumber bagi lahirnya teori.

Kisah Mbah Mujair dapat menjadi pintu masuk untuk memahami keganjilan tersebut. Kita mengenal ikan mujair sebagai sesuatu yang biasa, bahkan terlalu biasa untuk membuat kita berhenti sejenak dan bertanya dari mana nama itu berasal dan pengetahuan seperti apa yang berada di belakangnya.