Opini  

Tacit Knowledge dan Ketakutan Menjadi Peneori

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Kita mendokumentasikan praktik masyarakat, memotretnya, menuliskan sejarahnya, menginventarisasinya, lalu menyebutnya sebagai kearifan lokal yang harus dilestarikan. Padahal, masih ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana pengetahuan itu diperoleh, bagaimana ia diwariskan, bagaimana masyarakat menguji keberhasilannya, dalam situasi apa ia bekerja, mengapa ia gagal dalam situasi tertentu, serta prinsip apa yang dapat kita abstraksikan dari praktik tersebut? Ketika pertanyaan-pertanyaan semacam itu mulai diajukan, kita tidak lagi berhenti pada dokumentasi kebudayaan, melainkan bergerak menuju produksi pengetahuan.

Persoalan yang sama tampak dalam tradisi akademik kita ketika karya dan kebudayaan Indonesia terlalu sering ditempatkan sebagai laboratorium bagi teori yang lahir di tempat lain. Kita membaca Foucault untuk membicarakan kekuasaan, Derrida untuk membicarakan dekonstruksi, Bourdieu untuk memahami habitus dan arena, Barthes untuk membaca tanda, Genette untuk membahas narasi, serta berbagai teori lain untuk menjelaskan sastra, pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan.

READ -  KEK Madura: Pesta Besar Investor di Atas Tanah Orang Kecil

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Teori-teori tersebut merupakan kekayaan intelektual yang membantu kita melihat sesuatu yang sebelumnya mungkin luput dari perhatian. Persoalannya muncul ketika karya kita hanya berhenti sebagai objek yang digunakan untuk membuktikan bahwa teori tersebut bekerja. Kita membaca wayang dengan teori tertentu lalu menemukan relasi kuasa, membaca cerita rakyat lalu menemukan oposisi biner, membaca mantra lalu menemukan fungsi simbolik, membaca sastra lokal lalu menemukan konsep yang sebelumnya telah dirumuskan oleh orang lain. Kita jarang membalik pertanyaannya: teori tentang manusia, alam, bahasa, kekuasaan, spiritualitas, keberadaan, atau hubungan manusia dengan lingkungan seperti apakah yang mungkin terkandung dalam praktik kebudayaan Nusantara itu sendiri?