Opini  

Tacit Knowledge dan Ketakutan Menjadi Peneori

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Di antara dua ekstrem tersebut terdapat ruang yang jauh lebih produktif, yaitu ruang untuk bertanya dengan rendah hati sekaligus berani: pengetahuan apa yang telah hidup begitu lama dalam praktik kita, tetapi belum pernah kita beri kesempatan untuk berbicara sebagai teori?

Selama ini kita terlalu sibuk mencari teori untuk menjelaskan praktik kita sampai lupa bahwa mungkin praktik kitalah yang sedang menunggu untuk dijadikan teori. Kita tidak kekurangan pengalaman, tidak kekurangan kebudayaan, tidak kekurangan praktik, bahkan mungkin tidak kekurangan kecerdasan; yang sering kali kurang adalah keberanian untuk mengambil jarak dari pengalaman, mengolahnya menjadi konsep, lalu mengatakan bahwa pengalaman tersebut memiliki kemungkinan epistemologis yang lebih luas daripada sekadar menjadi cerita tentang apa yang pernah dilakukan seseorang.

READ -  Buta Hukum di Rumah Hukum: Saat Calon Elit Maskulinitas Toxic

Jika keberanian itu mulai tumbuh, maka arah perjalanan pengetahuan kita tidak lagi hanya bergerak dari teori menuju praktik, tetapi juga dari praktik menuju teori, dari pengalaman menuju abstraksi, dari kebiasaan menuju konsep, dan dari pengetahuan yang diam-diam hidup di dalam masyarakat menuju pengetahuan yang mampu berbicara dalam ruang akademik.

Sebab, pada akhirnya, mempraktikkan teori menghasilkan tindakan, sedangkan meneorikan praktik menghasilkan pengetahuan. Kita tidak kekurangan teori. Yang mungkin selama ini kurang adalah keberanian untuk percaya bahwa pengalaman kita sendiri juga memiliki kemungkinan menjadi sumber teori, dan bahwa kita pun dapat menjadi teoretikus atas kenyataan yang selama ini kita jalani, kita warisi, kita pikirkan, dan kita alami sendiri.