Opini  

Tacit Knowledge dan Ketakutan Menjadi Peneori

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Teori Barat dapat digunakan untuk membaca praktik lokal, tetapi praktik lokal juga harus diberi kesempatan untuk menguji, memperluas, mengkritik, bahkan mungkin mengubah teori yang kita gunakan. Hubungannya bukan lagi hubungan satu arah antara teori sebagai hakim dan praktik sebagai terdakwa, melainkan hubungan dialogis antara berbagai tradisi pengetahuan. Kita membaca teori mereka untuk memahami kenyataan kita, tetapi setelah itu kita juga harus berani membaca kenyataan kita sendiri untuk menemukan sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori tersebut.

Kembali kepada Pak Mujair, barangkali ikan mujair akhirnya bukan hanya kisah tentang seekor ikan atau tentang seseorang yang berhasil membawa ikan dari lingkungan tertentu ke lingkungan yang berbeda. Kisah itu dapat kita baca sebagai metafora tentang bagaimana pengetahuan sesungguhnya sering bekerja: manusia menghadapi persoalan konkret, mencoba, gagal, mengamati, mengubah cara, mencoba kembali, lalu perlahan menemukan kemungkinan.

READ -  Mimikri: Menjadi Hampir Sama, tetapi Tak Pernah Serupa

Bahasa ilmiah mungkin datang kemudian untuk memberikan nama, klasifikasi, konsep, dan penjelasan terhadap apa yang telah terjadi. Akan tetapi, bahasa yang datang kemudian tidak selalu berarti pengetahuan yang dijelaskannya juga baru lahir kemudian. Kadang-kadang praktik telah lebih dahulu mengetahui sesuatu sebelum teori memiliki bahasa untuk mengatakannya.

Barangkali sebab itu kita perlu melihat kembali berbagai praktik kebudayaan kita dengan cara yang sedikit berbeda. Kita tidak perlu jatuh ke dalam romantisme yang menganggap semua warisan leluhur pasti benar, sebab setiap pengetahuan tetap perlu diuji, dikritisi, dan ditempatkan dalam konteksnya. Namun kita juga tidak perlu terjebak dalam sikap sebaliknya, yakni menganggap praktik lokal baru layak disebut pengetahuan setelah memperoleh legitimasi dari teori yang berasal dari luar.