Opini  

Tacit Knowledge dan Ketakutan Menjadi Peneori

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Pertanyaan tersebut sesungguhnya mengubah posisi kita dalam produksi pengetahuan. Kita tidak lagi hanya menjadi pengguna teori, tetapi mulai membayangkan diri sebagai produsen konsep. Kita tidak lagi semata-mata menjadikan kebudayaan sendiri sebagai objek yang harus diterangi oleh teori dari luar, tetapi mulai melihat kemungkinan bahwa pengalaman kebudayaan itu sendiri menyimpan cahaya epistemologis yang belum cukup kita artikulasikan.

Petani yang membaca perubahan musim, nelayan yang mengenali arah angin dan arus, pengrajin yang menyimpan teknik dalam ingatan tubuh, guru yang menemukan strategi tertentu setelah puluhan tahun berada di ruang kelas, dalang yang mengetahui bagaimana membangun suasana pertunjukan, atau penyair yang memiliki kepekaan terhadap bunyi dan jeda, semuanya memiliki pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman. Pengetahuan itu mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk proposisi akademik, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki struktur.

READ -  Mojo Bangkit atau Mojo Bangkrut?

Di sinilah gagasan tentang tacit knowledge menjadi relevan. Manusia sering mengetahui sesuatu melalui tindakan tanpa selalu mampu menjelaskan sepenuhnya bagaimana ia mengetahui sesuatu tersebut. Seorang guru dapat mengetahui bahwa sebuah cara mengajar akan membuat kelas lebih hidup sebelum ia mampu merumuskannya menjadi teori pedagogis; seorang dalang mengetahui kapan suasana pertunjukan harus diperlambat atau dipercepat tanpa harus terlebih dahulu menyusun teori dramaturgi; seorang penyair mengetahui bahwa sebuah kata terasa berlebihan dalam puisinya meskipun ia belum tentu mampu menjelaskan keputusan estetik itu dengan terminologi kritik sastra.