Opini  

Mendidik Generasi Alfa dengan Perhatian yang Terdistraksi

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Ternyata persoalannya baru saja dimulai. Setelah pembelajaran berakhir, siswa memberikan penilaian terhadap proses belajar yang mereka ikuti dan beberapa aspek pembelajaran yang dilakukan kawan saya memperoleh nilai di bawah rata-rata. Beberapa hari kemudian ia dipanggil oleh manajemen. Ia diberi tahu bahwa ada siswa yang tidak berkenan dengan pembelajarannya.

Dalam pertemuan itu muncul sebuah pernyataan yang kemudian terus dipikirkannya: seorang guru seharusnya mampu mengalihkan perhatian siswa dari bermain gim kepada pembelajaran. Jika siswa tetap memilih bermain gim, guru dianggap belum berhasil membuat pembelajaran cukup menarik dan inovatif.

Ketika ia menceritakan pengalaman tersebut, saya tidak segera berpikir bahwa kawan saya sepenuhnya benar dan pihak manajemen sepenuhnya keliru. Saya justru melihat ada persoalan pedagogis yang lebih luas di balik peristiwa tersebut. Guru memang dituntut untuk inovatif. Pembelajaran yang monoton dan sepenuhnya satu arah tentu tidak lagi memadai untuk menghadapi peserta didik yang tumbuh dalam lingkungan digital.

READ -  Musyawarah Burung dan Budaya Menunda Perubahan

Namun, ketika seorang siswa bermain gim di tengah pembelajaran, apakah seluruh persoalan harus dikembalikan kepada kemampuan guru dalam membuat pembelajaran menarik? Apakah keberhasilan pembelajaran memang terutama ditentukan oleh kemampuan guru membuat siswa merasa senang selama proses belajar?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita melihat data tentang distraksi digital di ruang kelas. Dalam PISA 2022, sekitar 30 persen siswa di negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) adalah organisasi internasional yang beranggotakan 38 negara yang berfokus pada peningkatan kebijakan ekonomi dan sosial melaporkan bahwa mereka terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau setiap pelajaran matematika, sedangkan sekitar 25 persen mengaku terdistraksi oleh siswa lain yang menggunakan perangkat digital.