Opini  

Mendidik Generasi Alfa dengan Perhatian yang Terdistraksi

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Sebab itu, saya kurang sepakat apabila guru diposisikan seolah-olah harus memenangkan kompetisi dengan gim, media sosial, atau video pendek. Guru tidak mungkin menjadi lebih menarik daripada seluruh dunia digital yang tersedia di tangan siswa, dan pendidikan tidak perlu mengambil tugas tersebut. Jika setiap pembelajaran harus dibuat sedemikian menarik agar siswa tidak merasa bosan, kita berisiko menggeser makna belajar dari proses memahami menjadi proses mencari stimulus. Siswa akhirnya terbiasa bertanya apakah pembelajaran menyenangkan, bukan apakah pembelajaran tersebut membuat mereka memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami.

Padahal, pendidikan memiliki tugas yang lebih berat daripada sekadar membuat seseorang merasa nyaman. Pendidikan perlu mempertemukan manusia dengan sesuatu yang belum diketahuinya, termasuk sesuatu yang pada awalnya tidak menarik bagi dirinya. Guru terkadang harus meminta siswa membaca ketika mereka lebih ingin menonton, meminta mereka menulis ketika mereka lebih nyaman menyalin, dan meminta mereka berkonsentrasi ketika lingkungan di sekitarnya menawarkan banyak gangguan.

READ -  Musyawarah Burung dan Budaya Menunda Perubahan

Dalam batas yang wajar dan pedagogis, teguran bukanlah lawan dari pembelajaran inovatif. Teguran dapat menjadi bagian dari pendidikan apabila tujuannya adalah mengembalikan perhatian siswa kepada sesuatu yang sedang dipelajarinya. Saya kemudian memahami mengapa menjadi guru pada masa Generasi Alfa terasa semakin rumit. Guru bukan hanya dituntut menguasai materi dan metode pembelajaran, tetapi juga harus berhadapan dengan perubahan budaya perhatian.