Opini  

Musyawarah Burung dan Budaya Menunda Perubahan

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Ada satu bagian dalam buku Musyawarah Burung karya Faridu’d-Din Attar yang selalu membuat saya berhenti membaca sejenak. Bukan ketika burung-burung akhirnya menemukan Simurgh, bukan pula ketika mereka melewati tujuh lembah yang masyhur dalam tradisi tasawuf. Justru bagian yang paling mengganggu pikiran saya adalah ketika mereka belum berangkat.

Satu demi satu burung berdiri. Mereka tidak menolak perjalanan menuju Simurgh secara terang-terangan. Mereka hanya mengajukan alasan. Bulbul terlalu mencintai mawar sehingga tidak sanggup meninggalkannya. Merak ingin kembali ke surga. Nuri lebih tertarik mengejar air keabadian. Itik merasa air yang selama ini menjadi rumahnya sudah cukup. Burung-burung lain pun mempunyai keberatan masing-masing. Tidak ada yang tampak keliru. Semua alasan terdengar masuk akal. Semuanya tampak logis. Namun, justru di situlah Attar menyimpan kritik yang paling tajam. Perjalanan spiritual tidak pernah gagal karena musuh di luar diri, melainkan karena alasan yang lahir dari dalam diri sendiri.

READ -  Problem Demokrasi, Bukan Sekadar Soal Efisiensi

Saya sering merasa bahwa kita hidup di zaman yang dipenuhi manusia-manusia yang menyerupai burung-burung Attar. Kita tidak kekurangan pengetahuan tentang apa yang seharusnya dilakukan. Kita hanya sangat terampil memproduksi alasan untuk menundanya.

Alasan-alasan itu berubah mengikuti zaman. Dahulu orang mungkin berkata, “Aku belum siap.” Kini kalimat itu berubah menjadi, “Aku masih menunggu waktu yang tepat.” Dulu orang menunggu kesempatan. Sekarang orang menunggu algoritma, menunggu suasana hati, menunggu seminar berikutnya, menunggu buku berikutnya, atau menunggu seseorang datang meyakinkan bahwa dirinya memang mampu.