Pamekasan – Usaha batik tulis di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura, menghadapi sejumlah tantangan. Selain biaya bahan baku yang terus meningkat, para pelaku usaha juga mengeluhkan menurunnya minat masyarakat untuk membeli batik.
Membatik bukanlah pekerjaan yang sederhana. Prosesnya membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta waktu yang tidak sebentar hingga kain siap dipasarkan.
Kain terlebih dahulu diberi pola sesuai desain yang diinginkan. Setelah itu, pola tersebut dicanting menggunakan malam untuk menutup bagian tertentu agar tidak terkena warna saat proses pewarnaan.
Tahapan kemudian dilanjutkan dengan pewarnaan, pencucian hingga beberapa kali, pengeringan, serta penutupan kembali bagian tertentu menggunakan malam untuk proses pewarnaan berikutnya. Setelah seluruh proses pewarnaan selesai, kain menjalani proses pelorodan untuk menghilangkan malan, kemudian dikeringkan kembali dan masuk tahap finishing sebelum siap dijual.
Rida, salah seorang pengrajin batik, bertugas menutup pola yang telah dibuat menggunakan malan. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian agar warna tidak tercampur pada bagian kain yang tidak diinginkan.
“Tugas saya ini nutupin bunga dengan malam. Satu lembar kain batik ini saya diupah Rp2.500 sampai siap jual. Sehari saya bisa selesai sampai 20 lembar batik siap jual,” ujar Rida.
Menurutnya, pekerjaan tersebut dilakukan secara berulang pada setiap lembar kain dengan tetap memperhatikan pola yang telah dibuat sebelumnya.

