Harga Bahan Baku Melonjak, Pengrajin Batik Tulis Klampar Pamekasan Makin Tertekan

jatiminfo.id
Ibu Rida, pengrajin batik tulis Klampar saat berada di kediamannya. (Foto : Jatiminfo.id).

Sementara itu, Heriyanto selaku pemilik usaha batik tulis mengaku mulai mempertimbangkan untuk memiliki usaha lain di luar batik tanpa meninggalkan usaha batiknya. Kondisi tersebut tidak lepas dari meningkatnya biaya produksi, mulai dari bahan baku hingga ongkos tenaga kerja.

“Saya ingin punya usaha lain selain batik, mengingat harga malan satu kilo sekarang Rp35 ribu, kainnya juga mahal, belum ongkos pekerja,” kata Heri.

Kenaikan biaya produksi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan usaha batik tulis. Di sisi lain, minat masyarakat Pamekasan untuk membeli batik disebut mulai mengalami penurunan.

Kondisi tersebut membuat pengrajin harus semakin cermat dalam menjaga biaya produksi agar harga jual tetap dapat dijangkau masyarakat, tanpa mengabaikan kualitas batik tulis yang dikerjakan secara manual.

READ -  Forum Mahasiswa Pantura Soroti Jalan Rusak dan Tata Kelola Aset PUPR Pamekasan

Batik tulis Klampar sendiri dikenal sebagai salah satu produk kerajinan yang dikerjakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Setiap lembar kain membutuhkan proses panjang dan keterampilan khusus sebelum akhirnya menjadi produk siap pakai.

Para pengrajin berharap keberadaan batik tulis lokal tetap mendapat perhatian dan dukungan dari masyarakat, sehingga usaha para pembatik dapat terus bertahan di tengah meningkatnya biaya produksi dan perubahan minat pasar.