Opini  

Cancel Culture dan Bahasa yang Baik dalam Ruang Publik

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Oleh karena itu, persoalan utama bukanlah apakah masyarakat boleh mengkritik, melainkan bagaimana kritik dilakukan dan bagaimana tanggung jawab dibangun. Kritik tetap diperlukan, terutama ketika terdapat tindakan yang merugikan orang lain. Namun, kritik perlu dibedakan dari serangan personal. Publik perlu memeriksa sumber informasi, memahami konteks, membedakan fakta dari opini, dan menghindari penyebaran tuduhan yang belum teruji. Figur publik pun memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan dampak bahasa, menyampaikan klarifikasi secara terbuka, serta mengakui kesalahan tanpa berlindung di balik alasan bahwa ucapannya hanya candaan atau tidak dimaksudkan untuk menyakiti.

Pada akhirnya, literasi digital perlu berjalan beriringan dengan literasi berbahasa. Kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup jika tidak disertai kecakapan menafsirkan pesan, mengenali konteks, dan mempertimbangkan dampak komunikasi. Bahasa yang baik bukan berarti bahasa yang steril dari kritik atau selalu menyenangkan semua pihak. Bahasa yang baik adalah bahasa yang memungkinkan perbedaan disampaikan tanpa menghilangkan martabat manusia. Begitu pula, kritik yang baik bukan kritik yang meniadakan seseorang, melainkan kritik yang menuntut pertanggungjawaban dan membuka kemungkinan perbaikan.

READ -  Dari Dakwah ke Kekuasaan: Membaca Strategi Politik Nabi untuk Gerakan HMI

Ruang publik yang sehat membutuhkan keberanian untuk berbicara sekaligus kedewasaan untuk mendengarkan. Cancel culture seharusnya tidak menjadi alasan untuk membungkam kritik, tetapi juga tidak boleh digunakan sebagai pembenaran bagi penghukuman tanpa proses yang adil. Di tengah derasnya arus informasi, tanggung jawab berbahasa menjadi semakin penting. Sebab, kata-kata yang kita sebarkan bukan hanya membentuk percakapan hari ini, melainkan juga menentukan kualitas kehidupan bersama di masa depan.