Menurutnya, penerapan sanksi juga harus dilakukan secara proporsional. Jika pelanggaran terbukti dilakukan oleh pihak tertentu, konsekuensi seharusnya diarahkan kepada pihak yang bertanggung jawab, tanpa mengorbankan hak peserta lain yang tidak melakukan pelanggaran.
Amrullah berharap panitia segera memberikan kejelasan mengenai penyelesaian persoalan tersebut, termasuk memastikan nasib pertandingan bagi kecamatan lain yang tidak terlibat. Transparansi keputusan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan peserta sekaligus mencegah munculnya anggapan adanya ketidakadilan dalam kompetisi.
“Kompetisi olahraga seharusnya menjunjung tinggi sportivitas, disiplin, dan keadilan. Jangan sampai konflik antartim justru menghilangkan hak peserta lain untuk bertanding,” tukasnya.
Ia menilai, keputusan yang berdampak kepada seluruh peserta perlu dikaji kembali agar tidak menimbulkan ketidakadilan. Sebab, setiap tim telah mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi, baik dari segi latihan, tenaga, waktu, maupun biaya.
Amrullah juga menekankan pentingnya profesionalisme panitia dalam menyelesaikan konflik. Menurutnya, sanksi harus diberikan berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku, bukan dengan mengambil keputusan secara menyeluruh yang berpotensi mengorbankan tim-tim lain.
“Jangan sampai tim yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dari persoalan yang dilakukan pihak lain. Panitia harus bisa membedakan mana tim yang bermasalah dan mana yang tidak. Jika pelanggaran terbukti dilakukan oleh tim tertentu, sanksinya harus proporsional dan sesuai aturan,” pungkasnya.


