Opini  

Musyawarah Burung dan Budaya Menunda Perubahan

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Attar tidak sedang memperkenalkan tokoh-tokoh burung. Ia sedang memperlihatkan peta psikologi manusia. Dalam dunia pendidikan, pelajaran ini terasa semakin relevan. Pendidikan sering dimaknai sebagai proses menambah pengetahuan. Padahal pengetahuan tidak otomatis menghasilkan perubahan. Banyak orang mengetahui pentingnya membaca, tetapi tidak membaca. Banyak orang mengetahui pentingnya menulis, tetapi tidak pernah menyelesaikan satu tulisan pun. Banyak guru memahami pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, tetapi kelasnya masih berpusat pada ceramah.

Barangkali pendidikan bukan pertama-tama soal mengajarkan apa yang benar, melainkan membantu seseorang melepaskan alasan-alasan yang membuatnya terus bertahan pada kebiasaan lama. Mungkin karena itulah Hudhud tidak memberikan jalan pintas. Ia tidak menjanjikan perjalanan yang mudah. Ia justru memperlihatkan bahwa setiap langkah menuntut pengorbanan. Yang ditinggalkan bukan hanya rumah atau harta, tetapi juga citra diri yang selama ini dianggap paling aman.

READ -  Gurita Kapitalisme Ritel Modern dan Ancaman Kedaulatan Ekonomi Pedesaan Madura

Saya membayangkan, jika Attar hidup pada abad ke-21, mungkin burung-burung itu tidak lagi membawa alasan yang sama. Bulbul mungkin sibuk mengejar popularitas di media sosial. Merak mungkin terpesona oleh citra dirinya sendiri. Nuri mungkin terus mengumpulkan sertifikat tanpa pernah menggunakannya. Itik mungkin merasa cukup hidup di dalam gelembung algoritma yang selalu menyuguhkan pandangan serupa dengan keyakinannya. Bentuknya berubah, tetapi hakikatnya tetap sama, yakni bahwa manusia selalu menemukan cara baru untuk menghindari perjalanan yang paling penting.