Opini  

Mimikri: Menjadi Hampir Sama, tetapi Tak Pernah Serupa

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Dengan kata lain, persoalan mimikri membawa kita kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu ketika kita terus-menerus meniru wajah orang lain, apakah kita masih mengenali wajah sendiri? Pertanyaan itu bukan ajakan untuk menutup diri dari dunia. Justru sebaliknya, ia merupakan ajakan untuk memasuki dunia dengan kesadaran yang lebih matang. Kita tidak perlu menjadi “hampir sama” dengan siapa pun untuk merasa berharga. Kita dapat belajar dari siapa saja tanpa kehilangan kemampuan untuk menentukan siapa diri kita.

Barangkali kedewasaan kebudayaan bukan terletak pada kemampuan menjadi serupa dengan kebudayaan lain, melainkan pada kemampuan menyerap sesuatu yang baik dari luar, mengolahnya melalui pengalaman sendiri, lalu mengembalikannya kepada dunia dalam bentuk yang memiliki wajah kita sendiri.

READ -  Saat Negara Takut Pada Simbol One Piece, Sementara Bumi Menjerit

Dengan cara demikian, kebudayaan tidak menjadi tiruan yang kehilangan asal-usul, tetapi menjadi ruang perjumpaan yang terus melahirkan kemungkinan baru. Kita tidak lagi sekadar meniru atau ditiru. Kita mengolah, menafsirkan, dan menciptakan kembali.

Sebab menjadi diri sendiri bukan berarti tidak pernah menyerupai siapa pun. Menjadi diri sendiri berarti mengetahui apa yang kita ambil, mengapa kita mengambilnya, dan menjadi apa kita setelah mengambilnya. Di situlah mimikri berhenti menjadi sekadar peniruan dan mulai menjadi proses pembentukan identitas.

Penulis:

Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat.