Opini  

Mimikri: Menjadi Hampir Sama, tetapi Tak Pernah Serupa

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Dimensi inilah yang menarik jika kita membacanya melalui sastra Indonesia. Hanafi dalam Salah Asuhan karya Abdul Moeis dapat dibaca sebagai salah satu potret tragis manusia yang terjebak dalam hasrat menjadi “yang lain”. Hanafi mengagungkan Barat dan memandang kebudayaan Eropa sebagai sesuatu yang lebih tinggi. Hubungannya dengan Corrie menjadi salah satu bentuk dari ambisi tersebut. Ia tidak hanya ingin mengenal kebudayaan Barat, tetapi berusaha menjadikan dirinya sedekat mungkin dengan dunia yang dikaguminya.

Namun, proses tersebut justru melahirkan keterasingan. Hanafi berada di antara dua dunia tanpa benar-benar memiliki pijakan yang utuh. Ia tidak sepenuhnya menjadi Barat, tetapi juga semakin jauh dari lingkungan asalnya. Mimikri dalam diri Hanafi akhirnya menjadi persoalan identitas karena peniruan tidak menghasilkan kepemilikan, melainkan kegamangan.

READ -  Pasar Mangkrak dan Akuntabilitas Aset Publik

Di sini kita dapat melihat bahwa masalah utama mimikri bukan terletak pada tindakan meniru itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan mengolah sesuatu yang ditiru menjadi bagian dari diri secara sadar. Meniru dapat menjadi proses belajar apabila seseorang mengetahui apa yang hendak diserap dan mengapa ia menyerapnya. Sebaliknya, meniru dapat berubah menjadi keterasingan apabila bentuk luar diterima tanpa kemampuan untuk membaca nilai yang berada di baliknya.

Dalam konteks yang berbeda, pemikiran R.A. Kartini memperlihatkan kemungkinan lain. Kartini mengenal pemikiran Barat dan mengagumi berbagai gagasan mengenai pendidikan, kebebasan, dan kedudukan perempuan. Namun, ia tidak berhenti pada tindakan meniru bentuk kehidupan Eropa. Ia mengolah gagasan tersebut melalui pengalaman dan persoalan masyarakatnya sendiri. Yang diambil bukan sekadar kulit kebudayaan, melainkan energi intelektual yang dapat digunakan untuk membaca keadaan di sekitarnya.