Opini  

Mimikri: Menjadi Hampir Sama, tetapi Tak Pernah Serupa

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Persoalannya kemudian bukan semata-mata apakah sesuatu berasal dari Barat atau dari kebudayaan lokal. Persoalan yang lebih rumit adalah bagaimana sesuatu yang datang dari luar diterima, ditiru, dinegosiasikan, lalu perlahan-lahan dianggap sebagai bagian dari diri sendiri. Pada titik tertentu, kita bahkan kesulitan membedakan mana yang merupakan pilihan sadar dan mana yang merupakan kebiasaan yang diwariskan oleh sejarah.

Kecenderungan mimikri itu dapat dilihat dalam cara sebagian masyarakat memandang budaya Barat. Jas dan dasi, misalnya, sering dianggap sebagai pakaian yang lebih formal, modern, dan berwibawa daripada pakaian tradisional. Bahasa asing kadang-kadang dipandang lebih bergengsi daripada bahasa sendiri. Gaya hidup yang datang melalui media global mudah dianggap sebagai tanda kemajuan, sementara praktik kebudayaan lokal justru ditempatkan sebagai sesuatu yang kuno.

READ -  Dari Desa untuk Bangkalan: Ketika Latar Belakang Hilang Dibalik Kursi Komando Kekuasaan

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan mengenakan jas, mempelajari bahasa asing, atau menikmati kebudayaan dari belahan dunia lain. Persoalannya muncul ketika pilihan tersebut tidak lagi lahir dari kesadaran, melainkan dari anggapan bahwa segala sesuatu yang berasal dari luar selalu lebih tinggi daripada yang tumbuh dari lingkungan sendiri. Pada saat itulah mimikri tidak lagi sekadar proses belajar kebudayaan, tetapi dapat berubah menjadi persoalan cara kita memandang diri.

Bhabha justru menarik perhatian kita kepada ambivalensi tersebut. Orang yang meniru tidak pernah benar-benar menjadi pihak yang ditirunya. Ia menciptakan sesuatu yang baru dari proses peniruan itu. Karena itu, mimikri tidak selalu berarti kelemahan atau ketidakmampuan. Di dalamnya terdapat ruang negosiasi, bahkan kemungkinan resistensi. Tiruan dapat menjadi tidak nyaman bagi yang ditiru karena kemiripan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa identitas yang dianggap asli ternyata dapat dipelajari, disalin, dan ditafsirkan kembali.