Perbedaan Hanafi dan Kartini memperlihatkan bahwa hubungan dengan kebudayaan lain seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang kita tiru?”, tetapi perlu dilanjutkan dengan pertanyaan “untuk apa kita menirunya?” dan “menjadi apa kita setelah menirunya?”. Pertanyaan terakhir inilah yang sering kali terlewat.
Mimikri masih terus berlangsung hingga hari ini, bahkan mungkin semakin intensif karena teknologi membuat pertukaran kebudayaan berlangsung tanpa batas. Generasi muda dapat melihat gaya berpakaian dari Seoul, mendengarkan musik dari Amerika, mengikuti tren kuliner dari Jepang, menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris, dan mengadopsi gaya komunikasi tertentu hanya melalui layar telepon genggam. Batas geografis semakin kabur, sementara budaya bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menyaringnya.
Keadaan tersebut tidak perlu ditanggapi dengan kecemasan berlebihan terhadap budaya asing. Kebudayaan memang selalu tumbuh melalui perjumpaan. Tidak ada kebudayaan yang sepenuhnya steril dari pengaruh kebudayaan lain. Identitas pun tidak pernah benar-benar beku. Ia dibentuk melalui pertemuan, pertukaran, konflik, negosiasi, dan proses apropriasi yang berlangsung terus-menerus.
Yang perlu dihindari adalah kehilangan kemampuan untuk memilih. Kita boleh meminjam sesuatu dari kebudayaan lain, tetapi pinjaman itu perlu mengalami pengolahan. Kita dapat belajar dari Barat tanpa harus menjadi Barat. Kita dapat mengagumi Jepang tanpa kehilangan keindonesiaan. Kita dapat menggunakan bahasa asing tanpa merasa malu terhadap bahasa sendiri. Kita dapat mengenakan pakaian modern tanpa harus menganggap pakaian tradisional sebagai sesuatu yang lebih rendah.

