Opini  

Mendidik Generasi Alfa dengan Perhatian yang Terdistraksi

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Guru dituntut tegas tetapi tidak boleh terlalu keras, harus dekat dengan siswa tetapi tetap memiliki otoritas, harus mendengarkan peserta didik tetapi tidak dapat menyerahkan seluruh keputusan pedagogis kepada mereka, serta harus menciptakan pembelajaran yang menarik tanpa menjadikan dirinya sekadar penghibur di depan kelas.

Dalam situasi semacam itu, evaluasi siswa terhadap guru memang penting, tetapi hasil evaluasi perlu dibaca secara hati-hati. Kepuasan siswa tidak selalu identik dengan keberhasilan pendidikan. Seorang siswa dapat memberikan nilai rendah sebab merasa tidak nyaman ditegur, sementara teguran tersebut mungkin justru diperlukan untuk menjaga proses belajar.

Sebaliknya, siswa dapat memberikan nilai tinggi sebab menikmati pembelajaran, tetapi rasa senang itu belum tentu menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran telah tercapai. Evaluasi pendidikan membutuhkan lebih daripada sekadar angka. Ia membutuhkan pembacaan terhadap proses, perkembangan, capaian, dan konteks.

READ -  Kendaraan Listrik: Hijau di Jalan, Merah di Hutan

Saya teringat kembali kepada cerita kawan saya. Peristiwa itu tampaknya sederhana: seorang siswa bermain gim, guru menegur, siswa memberikan penilaian rendah, lalu guru dipanggil manajemen. Namun, di dalam peristiwa sederhana tersebut terdapat pertanyaan yang lebih besar tentang masa depan pendidikan. Siapa yang bertanggung jawab atas perhatian siswa? Sejauh mana suara siswa menentukan kualitas guru? Apakah guru harus selalu membuat siswa senang? Dan yang paling penting, apakah sekolah sedang mendidik siswa untuk mengikuti apa yang menarik perhatian mereka atau membantu mereka menentukan sendiri apa yang layak mendapatkan perhatian?