“Mari kita gandeng seluruh elemen baik kalangan mahasiswa kalangan intelektual mengenai persoalan lingkungan secara ilmiah, memberikan edukasi, pengawasan yang menyentuh kebutuhan masyarakat luas,” katanya.
Dari sisi teknis, Akhmad Syahruddin, menegaskan bahwa pembangunan IPAL harus berorientasi pada fungsi dan keberlanjutan, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.
“Fasilitas IPAL Puskesmas Tanah Merah telah difungsikan kembali dan dinyatakan lolos uji laboratorium Envilab,” tuturnya.
Sementaraitu, KH. Makki Nasir, Ketua MUI sekaligus Ketua PCNU Bangkalan menekankan dimensi keagamaan bahwa menjaga kelestarian alam adalah mandat utama manusia sebagai khalifah di bumi.
“Tugas kita untuk menjaga dan kelestarian lingkungan yang bersih, karena ini adalah amanah utama manusia sebagai khalifah di bumi,” pungkasnya.
Bedah buku tersebut juga menghadirkan Ketua MUI sekaligus Ketua PCNU Bangkalan KH. Makki Nasir, M.Pd., Rektor Universitas Trunojoyo Madura Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., serta dokter spesialis anak dr. Hamid Nawawi, Sp.A.
Para penanggap menyoroti pentingnya menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab moral dan keagamaan, mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, serta mencegah dampak pencemaran terhadap kesehatan anak dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, HMI dan MUI Bangkalan berharap kolaborasi antara mahasiswa, ulama, akademisi, tenaga kesehatan, dan pemerintah dapat memperkuat pengawasan lingkungan serta mendorong pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab demi pembangunan Bangkalan yang sehat dan berkelanjutan.

