Opini  

Guru Rupa, Guru Sabda, Guru Laku, dan Pencarian Guru Sejati

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Sebab itu, guru tidak cukup hanya bertanya apakah materi telah selesai disampaikan atau target pembelajaran telah tercapai. Ia juga perlu mempertimbangkan apakah murid memperoleh kesempatan untuk berpikir, apakah mereka belajar memperlakukan orang lain dengan hormat, dan apakah pengetahuan yang diperoleh membantu mereka menghadapi kehidupan dengan pertimbangan yang lebih matang. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mengurangi pentingnya kompetensi akademik. Justru pertanyaan tersebut menempatkan kompetensi dalam tujuan pendidikan yang lebih menyeluruh.

Serat Wulangreh melalui nasihat tentang pengolahan batin dan pembiasaan perbuatan baik mengingatkan kita bahwa pembentukan manusia membutuhkan latihan yang berkelanjutan. Dalam bahasa pendidikan modern, kita dapat menghubungkannya dengan pembelajaran sepanjang hayat: manusia terus belajar, meninjau kembali pengetahuannya, dan memperbaiki tindakannya ketika berhadapan dengan pengalaman baru. Akan tetapi, pembelajaran sepanjang hayat tidak hanya berarti terus memperoleh informasi. Ia juga berarti mempertahankan kesediaan untuk berubah ketika pemahaman kita ternyata belum memadai.

READ -  Problem Demokrasi, Bukan Sekadar Soal Efisiensi

Guru rupa, guru sabda, guru laku, dan guru sejati, dalam kerangka refleksi ini, membantu kita melihat pendidikan dari beberapa sisi sekaligus. Kita belajar melalui apa yang diamati, melalui kata-kata yang ditafsirkan, melalui tindakan yang dijalani, dan melalui refleksi yang membuat pengalaman memperoleh makna. Tidak satu pun dimensi tersebut cukup apabila berdiri sendiri. Pengamatan membutuhkan pertimbangan, kata-kata membutuhkan pengujian, tindakan membutuhkan arah, dan refleksi membutuhkan keberanian untuk mengakui keterbatasan.