Opini  

Belajar dari FYP Fenomena Media Sosial yang Canggih

jatiminfo.id
Intan Wulan Dari.

Antara Inspirasi dan Realitas

Namun, di balik manfaatnya, ada sisi kritis yang perlu diperhatikan. Tidak semua konten FYP bisa langsung diterapkan. Tips IPK tinggi, misalnya, sering kali hanya menampilkan potongan kecil dari strategi belajar, tanpa menjelaskan konteks yang lebih luas. Selain itu, konten di FYP sering dibuat oleh siapa saja tanpa proses penyuntingan atau pemeriksaan fakta, sehingga kebenarannya tidak selalu terjamin.

Bahaya lain adalah kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Festinger (1954) menyebut hal ini sebagai perbandingan sosial: manusia cenderung menilai kemampuan dirinya dengan melihat orang lain. Konten yang terlihat sempurna bisa membuat mahasiswa merasa tertinggal, padahal realitas setiap orang berbeda. Konten media sosial memang dapat menjadi sumber belajar alternatif, tetapi tetap harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis.

READ -  PAD Besar, Kemiskinan Membandel: Ujian Kepemimpinan di Bangkalan

Selain itu, motivasi instan dari FYP sering kali cepat hilang. Mahasiswa bisa merasa bersemangat setelah menonton video motivasi, tetapi tanpa tindakan nyata, semangat itu akan menguap. Di sinilah pentingnya sikap kritis: mahasiswa harus mampu memilah konten yang relevan, valid, dan sesuai dengan kebutuhan pribadi. Kemampuan ini merupakan inti literasi digital, yaitu kecakapan memahami, menilai, dan memanfaatkan informasi dari sumber digital secara bijak (Gilster, 1997).

Langkah praktisnya sederhana. Periksa dulu siapa pembuat kontennya dan apa latar belakangnya, bandingkan tipsnya dengan sumber ilmiah atau pendapat dosen, lalu uji dalam kegiatan belajar sendiri. Dengan begitu, FYP tidak lagi menjadi sekadar tontonan, tetapi bahan awal untuk belajar yang lebih mendalam.