Opini  

Mimikri: Menjadi Hampir Sama, tetapi Tak Pernah Serupa

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Ada sesuatu yang menarik dari tindakan meniru. Kita dapat menyalin pakaian, gaya bicara, cara berjalan, cara berpikir, bahkan cara memandang dunia. Akan tetapi, setiap tiruan selalu menyisakan jarak dari sesuatu yang ditirunya. Kita dapat mendekati bentuk yang lain, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi yang lain. Di dalam jarak yang tipis itulah Homi K. Bhabha menempatkan konsep mimikri, sebuah kondisi ambivalen ketika seseorang meniru budaya, bahasa, perilaku, atau nilai dari pihak lain, tetapi hasil tiruan itu tidak pernah sepenuhnya identik dengan sumbernya.

Bhabha menggambarkan mimikri melalui ungkapan yang sangat terkenal: almost the same but not quite. Hampir sama, tetapi tidak sepenuhnya. Dalam konteks kolonial, mimikri menjadi persoalan yang lebih kompleks daripada sekadar tindakan meniru. Penjajah menghendaki masyarakat terjajah menjadi cukup mirip dengan dirinya agar dapat menerima sistem nilai, bahasa, pendidikan, dan tata sosial yang diperkenalkannya. Namun, kemiripan itu tidak pernah dibiarkan menjadi kesamaan sepenuhnya. Di situlah mimikri memiliki sifat ambivalen. Ia sekaligus menunjukkan keberhasilan peniruan dan kegagalan untuk menjadi identik.

READ -  Mengadili Abad ke-7 dengan Moralitas Abad ke-21: Sebuah Kekeliruan Sejarah

Pengalaman Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah semacam itu. Pendidikan dan kebudayaan kita tumbuh melalui perjumpaan panjang dengan berbagai kekuatan kolonial, mulai dari Portugis, Inggris, Belanda, hingga Jepang. Jejak kolonialisme tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan tua, arsip sejarah, atau nama jalan. Ia dapat bertahan lebih subtil dalam cara berpikir, cara mendidik, cara berpakaian, cara menilai kemajuan, bahkan dalam cara kita memandang kebudayaan sendiri.