Opini  

Tiga Belas Menit Terakhir dan Tujuh Hari yang Dilupakan

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Pagi belum benar-benar selesai ketika sebuah pesan masuk ke WhatsApp saya. Saya membacanya sambil mengerjakan beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu diceritakan di sini. Pesannya panjang. Sopan. Diawali salam, permohonan maaf karena mengganggu waktu, lalu sebuah cerita tentang perjalanan, penerbangan, sinyal yang tidak bersahabat, dan Google Classroom yang telanjur menutup pintunya.

Saya membacanya sekali. Lalu sekali lagi. Entah mengapa, saya berhenti pada angka-angka yang ditulisnya dengan begitu rinci: pukul 05.00 mendarat, pukul 07.50 mulai mengunggah, pukul 08.03 tugas akhirnya berhasil masuk, tetapi tidak lagi dapat diserahkan. Tiga belas menit.

Kadang-kadang, nasib memang senang bermain-main dengan menit. Kereta berangkat dua menit sebelum kita tiba. Pintu pesawat ditutup ketika kita masih berlari di lorong bandara. Seseorang pergi beberapa saat sebelum kita sempat mengatakan bahwa kita mencintainya.

READ -  Membaca Ulang Pernyataan Rektor UTM dalam Ruang Dialektika Berdemokrasi

Waktu memang kejam dengan caranya sendiri. Namun, pagi itu saya tidak sedang membaca puisi. Saya sedang membaca pesan seorang mahasiswa yang terlambat mengumpulkan tugas. Tugas itu diberikan tujuh hari sebelumnya.

Di situlah saya mulai merasa ada sesuatu yang ganjil. Bukan pada sinyalnya. Saya tidak memiliki cukup pengetahuan tentang jaringan telekomunikasi untuk menuduh sebuah sinyal berbohong. Bukan pula pada cerita penerbangannya. Saya bahkan tidak tahu apakah pagi itu ada pesawat yang mendarat pukul lima.