Opini  

Tiga Belas Menit Terakhir dan Tujuh Hari yang Dilupakan

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Baiklah. Saya melihat seorang mahasiswa di depan telepon genggam atau laptopnya. Mungkin wajahnya cemas. Ia menekan tombol unggah. Lingkaran kecil berputar-putar. Satu persen. Dua persen. Berhenti. Sinyal menghilang. Jam terus bergerak. 07.55. 07.58. 08.00. Saya dapat membayangkan kepanikannya.

Dalam bingkai itu, ia memang tampak seperti seseorang yang sedang dikerjai keadaan. Akan tetapi, saya seorang dosen. Barangkali salah satu kebiasaan buruk dosen adalah senang memperlebar bingkai. Saya mundurkan kamera. Satu jam. Satu hari. Tiga hari. Tujuh hari. Tiba-tiba, sinyal menjadi kecil sekali.

Pertanyaannya berubah. Bukan lagi: mengapa tugas gagal diunggah pukul 07.50? Melainkan: mengapa tugas baru diunggah pukul 07.50? Bahasa rupanya pandai mengubah pertanyaan. Beberapa saat kemudian, pesan lain datang. Persoalannya hampir sama. Mahasiswa lain terlambat mengumpulkan tugas. Kali ini listrik yang padam. Wi-Fi mati. Ia juga keliru membaca tenggat. Disangkanya tugas dapat dikumpulkan sepanjang hari, padahal pintu digital itu ditutup pukul delapan pagi.

READ -  Hardiknas di Era Eksperimen Kebijakan: Pendidikan Dikorbankan oleh Uji Coba Tanpa Arah

Saya tersenyum kecil. Pagi itu rupanya teknologi sedang banyak mendapat tuduhan. Sinyal dipanggil sebagai saksi. Listrik duduk di kursi terdakwa. Google Classroom sudah lebih dulu dinyatakan bersalah karena menutup pintu tepat waktu. Manusia? Manusia berdiri agak jauh dari tempat kejadian.

Saya jadi teringat M.A.K. Halliday, seorang pakar bahasa Inggris kelahiran Inggris dan berkebangsaan Australia (1925–2018). Dalam linguistik sistemik fungsional, bahasa dipahami sebagai sistem pilihan untuk membentuk makna. Kalimat bukan hanya susunan kata yang patuh pada tata bahasa. Di dalamnya ada cara manusia merepresentasikan pengalaman.