Opini  

Tiga Belas Menit Terakhir dan Tujuh Hari yang Dilupakan

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Contoh: nilai saya bagus karena saya belajar. Nilai saya buruk karena soalnya sulit. Presentasi saya berhasil karena saya menguasai materi. Presentasi saya kacau karena proyektornya rusak. Tulisan saya dimuat karena saya memang bekerja keras. Tulisan saya ditolak karena redakturnya tidak memahami gaya saya.

Kita memang makhluk yang pandai menjaga diri dari luka, termasuk luka kecil bernama pengakuan. Mungkin karena kalimat “saya salah” terasa seperti rumah tanpa tirai. Kita berdiri di dalamnya dan orang lain dapat melihat kita dengan jelas. Itulah sebabnya saya berhenti agak lama ketika membaca pesan mahasiswa kedua.

Setelah bercerita tentang listrik dan Wi-Fi, ia menulis bahwa dirinya kurang teliti membaca informasi. Kemudian ia mengatakan sesuatu yang sederhana: kesalahan itu tetap menjadi tanggung jawabnya. Saya membaca kalimat itu dua kali. Bukan karena kalimatnya indah.

READ -  Akreditasi Naik, Ruh Pendidikan Menurun?

Sebagai orang yang menyukai puisi, saya harus jujur: kalimat itu tidak puitis sama sekali. Namun, ia memiliki sesuatu yang sering hilang dari banyak kalimat permohonan maaf: subjek. “Saya.”

John Langshaw Austin (1911-1960), filsuf bahasa terkemuka asal Inggris pencetus teori tindakan tutur, pernah mengatakan bahwa dengan bahasa manusia tidak hanya mengatakan sesuatu. Kita juga melakukan sesuatu. Ketika seseorang berkata, “Saya berjanji,” ia sedang melakukan tindakan berjanji. Ketika berkata, “Saya meminta maaf,” ia sedang melakukan tindakan meminta maaf.