Mungkin karena itu saya tidak ingin melihat keterlambatan mahasiswa hanya sebagai persoalan hukuman. Pendidikan bukan pengadilan. Dosen bukan hakim yang setiap pagi menunggu seseorang melakukan kesalahan agar dapat menjatuhkan vonis. Namun, pendidikan juga bukan tempat kita melatih manusia menyusun alasan yang semakin canggih.
Saya sering berpikir, kita mengajarkan begitu banyak hal di kelas bahasa. Kalimat efektif. Paragraf koheren. Teks argumentasi. Kohesi gramatikal. Struktur wacana. Tetapi mungkin ada satu pelajaran bahasa yang jarang kita ajarkan: bagaimana menempatkan “saya” sebagai subjek ketika kesalahan memang menjadi milik kita. “Saya terlambat.” “Saya kurang teliti.” “Saya salah membaca tenggat.” “Saya mengambil risiko dengan mengunggah sepuluh menit sebelum batas waktu.”
Kalimat-kalimat itu tidak membutuhkan teori linguistik yang rumit, tetapi mengucapkannya membutuhkan keberanian. Paulo Freire (1921-1997), seorang filsuf dan tokoh pendidikan Brasil yang sangat berpengaruh di dunia, pernah berbicara tentang pendidikan sebagai proses membangun kesadaran. Manusia belajar membaca kata sekaligus membaca dunia. Saya kira, membaca dunia juga berarti mampu melihat hubungan antara keputusan dan akibat.
Jika saya memilih mengunggah tugas sepuluh menit sebelum tenggat, saya sedang mengambil risiko. Jika risiko itu kemudian menjadi kenyataan, saya boleh kecewa pada sinyal.
Tetapi saya juga harus berani bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya memberi sinyal kekuasaan sebesar itu atas nasib tugas saya?

