Opini  

Tiga Belas Menit Terakhir dan Tujuh Hari yang Dilupakan

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Coba perhatikan. “Saya terlambat mengumpulkan tugas.” Lalu: “Tugasnya tidak bisa dikirim.” Pada kalimat pertama, ada “saya”. Ia hadir. Ia berdiri di depan kalimat seperti seseorang yang bersedia diperiksa. Pada kalimat kedua, “saya” menghilang. Tugas tiba-tiba memiliki kehidupan sendiri. Ia menjadi sesuatu yang “tidak bisa dikirim”. Entah oleh siapa. Entah sejak kapan.

Begitu pula kalimat-kalimat yang sering kita dengar. “Sinyalnya bermasalah.” “Listriknya mati.” “Google Classroom-nya sudah tertutup.” “File-nya tidak masuk.” Benda-benda mendadak begitu aktif. Sinyal bertindak. Listrik berulah. Aplikasi menutup pintu. File menolak masuk. Sementara manusia semakin pasif.

Dalam sistem transitivitas Halliday, kita dapat mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana: siapa melakukan apa? Kadang-kadang, dari pertanyaan sederhana itulah tanggung jawab ditemukan. Saya tidak sedang mengatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa itu berbohong. Tidak. Saya tidak memiliki bukti untuk mengatakan demikian. Sinyal memang bisa buruk. Listrik bisa padam. Bahkan laptop saya sendiri pernah memilih memperbarui sistem operasi pada saat saya sangat membutuhkannya. Teknologi memiliki selera humor yang kadang-kadang tidak lucu.

READ -  PAD Besar, Kemiskinan Membandel: Ujian Kepemimpinan di Bangkalan

Akan tetapi, persoalannya bukan tentang benar atau tidaknya alasan. Persoalannya adalah mengapa kita begitu mudah memulai cerita dari saat keadaan mulai merugikan kita. Dalam psikologi sosial ada istilah self-serving bias. Sederhananya, manusia memiliki kecenderungan yang agak lucu. Ketika berhasil, kita senang mencari penyebab di dalam diri. Ketika gagal, kita membuka jendela dan mencari penyebab di luar.