Maraknya kasus kekerasan dan pencabulan di lingkungan pendidikan dan pesantren di Kabupaten Bangkalan semakin hari semakin mengkhawatirkan. Peristiwa terbaru yang mencuat di salah satu pesantren di Kecamatan Galis adalah bukti bahwa ruang yang selama ini dianggap aman dan penuh nilai moral ternyata juga dapat menjadi lokasi kejahatan seksual yang menimpa anak-anak dan remaja.
Pencabulan yang terjadi di pondok pesantren Galis bukan kejadian pertama, melainkan sudah sering kali terjadi di tempat-tempat lain lingkungan pesantren maupun pendidikan. Maka, selama tidak ada langkah struktural yang serius, saya yakin kejahatan ini terus akan berkembang. Namun, harapan saya semoga kasus ini menjadi yang terakhir. Setiap kali kasus ini muncul ke permukaan, publik marah, keluarga korban terpukul, dan lembaga pendidikan terpaksa memberikan klarifikasi. Tetapi, siklusnya selalu sama: kasus meledak, pemberitaan ramai, lalu semuanya kembali senyap tanpa ada perubahan sistemik. Inilah keadaan yang tidak boleh lagi dibiarkan.
Realitas hari ini menampar kita dengan keras: pesantren dan sekolah di Bangkalan belum memiliki standar perlindungan yang layak bagi perempuan dan anak. Banyak lembaga masih bekerja berdasarkan kebiasaan, bukan regulasi. Banyak pengasuh atau guru memiliki akses penuh kepada anak termasuk ruang privat tanpa mekanisme pengawasan yang jelas. Dan yang paling fatal, ketika kekerasan seksual terjadi, tidak ada lembaga internal yang secara resmi bertanggung jawab menangani kasus dengan perspektif korban. Korban akhirnya melapor dalam ketakutan, keluarga bingung mencari pegangan, sementara lembaga kerap memilih menutup rapat kasus dengan alasan menjaga nama baik.

