Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah simbol dunia yang belum dikenal. Tempat manusia menghadapi ketakutan terdalamnya. Tempat ujian berlangsung. Tempat transformasi terjadi. Dalam berbagai mitologi dunia, pahlawan hampir selalu memasuki hutan sebelum memperoleh pengetahuan baru. Sebab itu, hutan keramat dalam cerita Nusantara sesungguhnya berbicara dengan hutan dalam dongeng Eropa, mitologi Yunani, atau kisah-kisah Timur Tengah. Mereka menggunakan bahasa simbolik yang sama.
Salah satu kesalahpahaman terbesar terhadap sastra horor adalah anggapan bahwa horor hanya bertujuan menakut-nakuti. Padahal, horor sering kali merupakan bentuk modern dari mitos. Noël Carroll dalam The Philosophy of Horror (1990) menjelaskan bahwa makhluk horor biasanya hadir sebagai sesuatu yang melanggar batas-batas normalitas. Ia berada di antara hidup dan mati, manusia dan bukan manusia, nyata dan tidak nyata.
Pandangan ini sangat dekat dengan teori Frye tentang citraan demonik (demonic imagery). Menurut Frye, dalam struktur sastra terdapat dunia apokaliptik dan dunia demonik. Dunia apokaliptik adalah dunia ideal. Sebaliknya, dunia demonik adalah dunia ketakutan, kekacauan, keterasingan, dan ancaman. Hantu-hantu dalam sastra Indonesia dapat dibaca sebagai penghuni dunia demonik tersebut. Mereka bukan sekadar makhluk gaib. Mereka adalah simbol.
Mengapa Hantu Tidak Pernah Punah? Pertanyaan ini menarik. Indonesia telah memasuki era digital, tetapi cerita tentang kuntilanak, pocong, genderuwo, atau makhluk gaib lain tetap bertahan. Bahkan, berkembang melalui film, novel, podcast, dan media sosial. Mengapa? Menurut saya, jawabannya terletak pada fungsi mitos itu sendiri.

