Opini  

Mitos yang Tidak Pernah Mati

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Laut Selatan dalam mitologi Jawa memperlihatkan dualitas tersebut. Laut memberi ikan, perdagangan, dan kehidupan. Namun laut juga dapat menelan kapal dan manusia. Sebab itu, Nyi Roro Kidul bukan sekadar tokoh lokal. Ia merepresentasikan pola simbolik yang jauh lebih luas. Ia adalah wajah Nusantara dari sebuah arketipe universal.

Arketipe lain yang menarik adalah pengembara. Menurut Frye, banyak karya sastra dibangun oleh pola quest atau pencarian. Tokoh meninggalkan tempat asalnya, menghadapi ujian, lalu memperoleh pengetahuan baru. Dalam legenda Sangkuriang, kita menemukan pola tersebut. Sangkuriang meninggalkan rumah. Ia mengembara. Ia mencari identitasnya. Namun, berbeda dengan banyak kisah kepahlawanan, pencarian itu berakhir dengan kegagalan. Ia tidak berhasil mencapai tujuan yang diinginkan.

READ -  Ketika Pesantren Menjadi Ruang Sunyi Kekerasan, Negara Tidak Boleh Bungkam

Dalam bahasa Frye, cerita seperti ini bergerak menuju wilayah tragedi. Yang menarik, pola pengembara ini terus muncul dalam sastra Indonesia modern. Kita menemukannya dalam Laskar Pelangi, dalam novel-novel Ahmad Tohari, bahkan dalam banyak cerita pesantren yang mengisahkan perjalanan mencari ilmu. Perjalanan fisik selalu disertai perjalanan batin. Dan itulah inti arketipe pengembara.

Ada satu simbol yang hampir selalu muncul dalam cerita rakyat Indonesia: hutan. Dalam dongeng Sunda, hutan sering menjadi tempat pertapaan. Dalam kisah Jawa, hutan adalah ruang pertemuan dengan makhluk gaib. Dalam cerita horor modern, hutan tetap menjadi lokasi yang menakutkan. Mengapa? Frye menjelaskan bahwa ruang dalam sastra sering memiliki fungsi arketipal.