Mircea Eliade dalam Myth and Reality (1963) menjelaskan bahwa mitos membantu manusia memahami pengalaman yang sulit dijelaskan secara rasional. Ketakutan akan kematian. Kesepian. Kehilangan. Rasa bersalah. Kerinduan kepada masa lalu. Semua pengalaman itu membutuhkan bahasa simbolik. Hantu menjadi salah satu bahasa tersebut. Sebab itu, ketika masyarakat modern masih menikmati cerita horor, sesungguhnya mereka tidak sedang mundur ke masa lampau. Mereka sedang menggunakan bentuk baru untuk mengungkapkan ketakutan yang sama tuanya dengan peradaban manusia.
Semakin lama saya membaca sastra Indonesia, semakin saya merasa bahwa mitos tidak pernah benar-benar pergi. Ia hadir dalam pantun. Ia hidup dalam wawacan. Ia menjelma dalam novel. Ia bersembunyi dalam puisi. Ia muncul kembali dalam cerita horor. Mitos tidak mati sebab ia merupakan bagian dari cara manusia memahami dunia.
Sebagaimana dikatakan Frye, sastra bergerak melalui pola-pola arketipal yang terus berulang. Pengarang mungkin menciptakan cerita baru, tetapi cerita baru itu selalu berbicara dengan cerita-cerita yang lebih tua. Sebab itu, ketika kita membaca legenda Nyi Roro Kidul, kisah Sangkuriang, atau novel horor modern, kita sebenarnya sedang membaca variasi dari percakapan yang sama. Percakapan panjang tentang manusia, ketakutan, harapan, kehilangan, dan pencarian makna.
Northrop Frye membantu kita memahami bahwa sastra tidak tumbuh dari ruang kosong. Di balik setiap cerita terdapat arketipe yang telah hidup selama berabad-abad. Nyi Roro Kidul adalah wajah Nusantara dari Ibu Agung. Sangkuriang adalah pengembara yang gagal menemukan dirinya. Hutan keramat adalah ruang transformasi. Hantu-hantu modern adalah bentuk baru dari mitos lama.

