Opini  

Mitos yang Tidak Pernah Mati

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Salah satu kontribusi terbesar Frye dalam kritik sastra adalah konsep arketipe. Istilah ini memang lebih dahulu dikenal melalui pemikiran Carl Gustav Jung. Jung menjelaskan bahwa arketipe merupakan pola-pola universal yang hidup dalam ketaksadaran kolektif manusia. Tokoh ibu, pahlawan, guru bijak, pengembara, bayangan gelap, dan perjalanan spiritual merupakan contoh-contoh arketipe yang ditemukan hampir di semua kebudayaan.

Frye kemudian mengembangkan konsep tersebut dalam kajian sastra. Menurutnya, sastra dunia dibangun oleh jaringan arketipe yang terus muncul dalam berbagai bentuk cerita. Sebab itu, ketika kita membaca legenda Sangkuriang, kisah Panji, novel modern, atau bahkan film horor, kita sebenarnya sedang berjumpa dengan pola-pola lama yang terus hidup. Tokohnya boleh berubah. Latar ceritanya boleh berganti. Bahasanya boleh berbeda. Namun, struktur imajinasinya tetap sama.

READ -  Akreditasi Naik, Ruh Pendidikan Menurun?

Dalam mitologi Nusantara, salah satu tokoh paling menarik adalah Nyi Roro Kidul. Bagi sebagian orang, ia adalah legenda. Bagi sebagian yang lain, ia merupakan bagian dari kepercayaan budaya yang masih hidup hingga sekarang. Dalam perspektif Frye, Nyi Roro Kidul dapat dibaca sebagai bentuk arketipe Great Mother atau Ibu Agung.

Arketipe ini ditemukan di berbagai kebudayaan dunia. Dalam mitologi Yunani terdapat Gaia. Dalam tradisi Mesir ada Isis. Dalam berbagai budaya Asia muncul sosok ibu kosmis yang menjadi sumber kehidupan sekaligus kekuatan misterius. Menariknya, figur Ibu Agung selalu memiliki dua wajah. Ia memberi kehidupan. Namun, ia juga dapat menghadirkan kematian.