Opini  

Mengadili Abad ke-7 dengan Moralitas Abad ke-21: Sebuah Kekeliruan Sejarah

jatiminfo.id
Moh. Ridlwan
Moh. Ridlwan

Mari kita tengok sosok Siti Maryam Ibu Nabi Isa (Yesus). Meskipun Alkitab tidak memberikan angka statistik tentang usianya, tradisi Yahudi pada masa itu—sebagaimana dicatat dalam berbagai literatur sejarah seperti Protevangelium of James—menunjukkan bahwa Siti Maryam bertunangan dengan Yusuf dalam usia yang menurut standar kita hari ini akan memicu perdebatan moral.

Sejarawan seperti Mary Joan Winn Leith mencatat bahwa dalam konteks Palestina abad pertama, pernikahan remaja awal adalah norma sosial yang tak terbantahkan. Tidak ada protes, tidak ada tuntutan hukum, karena memang begitulah roda masyarakat berputar.

Mahkota yang Masih Belia dan Dinasti yang Tergesa

Eropa, yang sering dianggap sebagai rahim peradaban modern, juga penuh dengan jejak kaki pengantin-pengantin belia di koridor istananya. Margaret Beaufort, sosok sentral dalam Perang Mawar di Inggris, melahirkan putranya, Henry VII, ketika ia baru berusia 13 tahun. Bayangkan: seorang anak yang secara biologis baru saja melewati ambang kedewasaan, harus melahirkan seorang raja yang akan mengubah sejarah Britania selamanya.

READ -  Ketika Pesantren Menjadi Ruang Sunyi Kekerasan, Negara Tidak Boleh Bungkam

Atau lihatlah Isabella of Valois, putri Prancis yang menikah dengan Richard II dari Inggris pada tahun 1396. Saat itu, Isabella baru berusia enam tahun. Tentu saja, pernikahan itu bersifat politis, sebuah jembatan perdamaian antara dua kerajaan yang terus berselisih. Namun, poin pentingnya adalah masyarakat saat itu tidak melihatnya sebagai sebuah penyimpangan.