Opini  

Mengadili Abad ke-7 dengan Moralitas Abad ke-21: Sebuah Kekeliruan Sejarah

jatiminfo.id
Moh. Ridlwan
Moh. Ridlwan

Siti Aisyah adalah bukti bahwa konteks usia pada masa itu tidak menghalangi pencapaian kematangan intelektual yang luar biasa. Ia tumbuh besar dalam “universitas” kenabian, menjadi salah satu guru terbesar umat manusia.

Mengapa Musuh Nabi Terbisu?

Ada satu bukti sejarah yang sangat kuat, namun jarang dibahas: kebisuan kaum Quraisy. Abu Jahal, Abu Lahab, dan para penentang Nabi di Mekkah serta Madinah adalah orang-orang yang sangat jeli dalam mencari celah untuk menjatuhkan kredibilitas Nabi Muhammad. Mereka menuduhnya sebagai penyair gila, tukang sihir, hingga pemecah belah persaudaraan.

Namun, tidak ada satu pun catatan sejarah—baik dari pihak kawan maupun lawan—yang menunjukkan bahwa mereka mengejek atau mengecam Nabi Muhammad karena pernikahannya dengan Siti Aisyah.

READ -  Ketika Pesantren Menjadi Ruang Sunyi Kekerasan, Negara Tidak Boleh Bungkam

Mengapa? Jawabannya sederhana: karena bagi masyarakat Arab abad ke-7, tindakan itu sepenuhnya normal. Tidak ada aturan moral, adat, maupun agama yang dilanggar. Jika tindakan itu dianggap menyimpang, Abu Jahal tentu akan menjadi orang pertama yang meneriakkan skandal itu di depan Ka’bah untuk mempermalukan Nabi.

Kebisuan musuh-musuh Nabi adalah testimoni paling jujur tentang standar zaman itu. Menilai kejadian itu sebagai “skandal” hari ini adalah tindakan yang tidak historis—seperti menyalahkan orang purba karena tidak menggunakan internet.

Moralitas: Sebuah Sungai yang Mengalir

Kita harus menyadari bahwa moralitas bukanlah sebuah monumen batu yang statis; ia adalah sungai yang mengalir, berubah bentuk sesuai lekuk tanah zaman. Apa yang kita anggap sebagai kebenaran abadi hari ini mungkin akan dianggap sebagai keganjilan oleh manusia di abad ke-25.