Namun, keteladanan tidak berarti guru harus diperlakukan sebagai manusia yang tidak mungkin salah. Justru kesediaan seorang guru mengakui kesalahan dapat menjadi pengalaman pendidikan yang berharga. Murid belajar bahwa tanggung jawab bukanlah kemampuan mempertahankan citra tanpa cela, melainkan keberanian memperbaiki sesuatu yang keliru. Laku, dengan demikian, tidak berhenti pada tindakan yang tampak baik, tetapi melibatkan kesediaan untuk terus mengoreksi diri.
Guru Sejati: Integritas dan Pencarian Makna
Istilah guru sejati membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar: siapa yang layak dijadikan pembimbing, dan bagaimana seseorang dapat membedakan pengetahuan yang mencerahkan dari pengetahuan yang hanya menghasilkan kesan kepandaian?
Dalam pembacaan etis atas Serat Wulangreh, persoalan tersebut berkaitan dengan anjuran memilih guru yang memiliki kualitas pengetahuan dan perilaku yang baik. Kajian Feri Andrianto mengenai hubungan guru dan murid dalam Serat Wulangreh menyoroti nilai pendidikan akhlak, termasuk pentingnya mencari pembimbing yang patut dijadikan teladan. Dari sini, kita dapat memahami bahwa kewibawaan guru tidak semata-mata bersumber dari jabatan atau penguasaan materi, tetapi juga dari kualitas moral yang menyertai keduanya.
Meskipun demikian, guru sejati dalam tradisi kebatinan Jawa dapat memiliki makna spiritual yang lebih luas, termasuk sebagai pembimbing batin dalam pencarian hakikat diri. Pengertian ini tidak boleh begitu saja disamakan dengan guru dalam pengertian kelembagaan atau profesi pendidikan. Keduanya dapat menjadi bahan dialog, tetapi perbedaan konteks dan sumbernya tetap perlu diperhatikan.


