Opini  

Guru Rupa, Guru Sabda, Guru Laku, dan Pencarian Guru Sejati

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Akan tetapi, kita perlu berhati-hati ketika menghubungkan gagasan modern tersebut dengan kebijaksanaan Jawa. Keduanya lahir dari konteks pemikiran yang berbeda. Guru rupa merupakan istilah yang kita gunakan untuk menafsirkan pembelajaran melalui sesuatu yang tampak, sedangkan teori Bandura menawarkan kerangka psikologis untuk menjelaskan mekanisme belajar melalui pengamatan. Keduanya dapat dipertemukan dalam dialog konseptual tanpa harus dianggap sebagai gagasan yang identik.

Rupa pun tidak selalu menghadirkan kebenaran. Penampilan yang meyakinkan dapat menyembunyikan kepentingan, sedangkan kesederhanaan seseorang belum tentu menjamin kebijaksanaannya. Sebab itu, belajar melalui pengamatan memerlukan ketajaman penafsiran. Kita perlu membedakan apa yang sungguh-sungguh mencerminkan nilai dari apa yang hanya membangun kesan. Keteladanan perlu dinilai melalui konsistensi tindakan, bukan semata-mata citra yang ditampilkan seseorang di hadapan orang lain.

READ -  Krisis Penokohan: Ketika Wali Kota Mojokerto Menjadi Ketua PMI di Daerahnya Sendiri

Guru Sabda: Bahasa, Pengetahuan, dan Keberanian Bertanya

Bahasa menempati kedudukan penting dalam proses pewarisan pengetahuan. Melalui sabda, manusia menyampaikan pengalaman, menyimpan ingatan, mengajarkan nilai, dan menghubungkan generasi yang satu dengan generasi berikutnya. Kita mengenal banyak kebijaksanaan leluhur sebab ajaran itu dirawat dalam bentuk cerita, tembang, nasihat, peribahasa, dan naskah yang terus dibaca kembali.

Serat Wulangreh sendiri merupakan contoh bagaimana kata-kata diolah menjadi tuntunan kehidupan. Ajaran di dalamnya tidak hanya dimaksudkan untuk diketahui, tetapi juga untuk dipertimbangkan sebagai pedoman bertindak. Bahasa menjadi jalan yang memungkinkan pengalaman manusia melampaui batas waktu dan ruang.