Opini  

Guru Rupa, Guru Sabda, Guru Laku, dan Pencarian Guru Sejati

jatiminfo.id
Heri Isnaini.

Menjadi guru, dengan demikian, bukan perkara menguasai seluruh jawaban, melainkan kesediaan menemani orang lain dalam pencarian pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Guru mengajarkan sesuatu yang dapat dilihat, menjelaskan sesuatu yang perlu dipahami, memperlihatkan sesuatu yang perlu dijalani, dan membuka ruang bagi pertanyaan yang belum selesai dijawab. Murid pun tidak hanya menerima, tetapi belajar mengamati, mempertimbangkan, dan mengambil tanggung jawab atas pengetahuannya sendiri.

Kebijaksanaan Jawa tidak kehilangan maknanya ketika dibaca bersama pemikiran modern. Sebaliknya, perjumpaan keduanya dapat memperluas cara kita memahami pendidikan, selama kita tidak menghapus perbedaan asal-usul dan konteksnya. Kita boleh mewarisi ajaran para pendahulu, tetapi pewarisan itu tidak selesai ketika kata-kata berhasil dihafalkan. Ia memperoleh arti ketika pengetahuan membentuk pertimbangan, pertimbangan menuntun tindakan, dan tindakan membuat kita semakin sadar akan tanggung jawab terhadap sesama.

READ -  Deretan Komplotan DPR RI Pemakan Gaji Buta dari Dapil Madura

Mungkin ukuran seorang guru tidak terletak pada seberapa banyak orang mengingat namanya, melainkan pada sejauh mana proses belajar bersamanya menumbuhkan keberanian untuk berpikir, kesanggupan untuk berbuat baik, dan kerendahan hati untuk terus belajar. Dari sana, pendidikan bergerak melampaui ruang kelas, sementara kebijaksanaan menemukan jalannya dalam kehidupan yang kita jalani bersama.