Opini  

Fenomena HIKIKOMORI antara mental dan realita

jatiminfo.id
Amir Hamzah.

Mereka memberi catatan, hubungan ini tidak signifikan secara statistik. “Studi ini menyimpulkan bahwa kecemasan merupakan faktor risiko signifikan untuk hikikomori, sedangkan hubungan antara jenis kelamin dan depresi memerlukan penyelidikan lebih lanjut.”

Para peneliti juga menegaskan, “Memahami hubungan ini sangat penting untuk mengembangkan intervensi kesehatan mental yang tepat sasaran dan meningkatkan dukungan bagi individu yang berisiko mengalami hikikomori di Indonesia.”

Dosen Program Studi (Prodi) Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun, Chaterina Yeni Susilaningsih, mengatakan prevalensi hikikomori di Indonesia memang belum sepenuhnya dipahami dan masih perlu penelitian yang lebih mendalam.

“Ini menjadi peringatan, bahwa kesadaran akan masalah ini harus semakin ditingkatkan dan beberapa langkah harus diambil untuk mencegah dan mengatasi dampak hikikomori di Indonesia ini.” Seperti dikutip dari RRI Madiun.

READ -  Kendaraan Listrik: Hijau di Jalan, Merah di Hutan

Chaterina menjelaskan bahwa hikikomori di Indonesia dikaitkan dengan beberapa faktor. “Seperti tekanan sosial, kesulitan beradaptasi dengan tuntutan masyarakat, kegagalan dalam mencapai ekspektasi, dan masalah kesehatan mental”. Mereka yang terkena dampak hikikomori ini akan menghabiskan waktu mereka di dalam rumah.

Chaterina menegaskan bahwa kondisi hikikomori ini tidak boleh dibiarkan berlanjut. Sebab, hikikomori memiliki dampak serius pada individu dan masyarakat. “Individu yang mengalami hikikomori sering mengalami depresi, kecemasan, rendahnya harga diri, dan kesulitan dalam membentuk hubungan sosial yang sehat.”