Opini  

Fenomena HIKIKOMORI antara mental dan realita

jatiminfo.id
Amir Hamzah.

Hasilnya, “komentar buruk merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan isolasi sosial,” ungkap mereka. “Sedangkan faktor internal yang berupa perpektif individu, kondisi psikologis, dan kontribusi media sosial menjadi faktor pendukung tindakan isolasi sosial pada remaja.” Faktor-faktor peningkat risiko hikikomori di Indonesia.

Sebuah studi lain yang disusun oleh para peneliti dari Indonesia dan Malaysia menyoroti faktor-faktor risiko hikikomori di Indonesia. Studi ini bertajuk “Gender, Anxiety, and Depression in Connection to Hikikomori” dan makalahnya telah terbit di jurnal Media Kesehatan Masyarakat Indonesia pada 2025.

Studi ini melibatkan 60 pasien depresi yang berobat di Poliklinik Kesehatan Mental di sebuah rumah sakit di Lombok Barat. Usia responden berkisar antara 20 hingga 79 tahun. Para peneliti mengumpulkan data tentang jenis kelamin, depresi, kecemasan, dan hikikomori dari para responden tersebut. Mereka mengumpulkan data menggunakan kuesioner penilaian diri dan kemudian menganalisisnya dengan uji Chi-square.

READ -  Media Massa, Pesantren, dan Kejahatan Pikiran

“Hasil menunjukkan bahwa pasien dengan kecemasan sedang hingga berat memiliki peningkatan risiko hikikomori lima kali lipat,” ungkap para peneliti. “Pasien perempuan memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar untuk berisiko dibandingkan pasien laki-laki, sedangkan mereka yang mengalami depresi sedang-berat memiliki risiko 2,83 kali lebih tinggi.”