Opini  

Fenomena HIKIKOMORI antara mental dan realita

jatiminfo.id
Amir Hamzah.

Meskipun tidak ditemukan riwayat psikiatri (masalah kesehatan mental) sebelumnya pada pemuda itu, pengurungan yang berkepanjangan, kurangnya keterlibatan sosial, dan suasana hati yang buruk menunjukkan diagnosis hikikomori, yang berpotensi diperparah oleh depresi, sehingga memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

“Hikikomori bukan lagi hanya masalah Jepang; ini telah menjadi tantangan global, dengan meningkatnya kasus di negara-negara seperti Indonesia,” simpul para peneliti. Para peneliti menuliskan, “Kasus baru-baru ini di Jakarta menyoroti bagaimana tekanan sosial, keuangan yang tidak stabil, dan waktu penggunaan layar yang berlebihan dapat menyebabkan kaum muda menarik diri dari dunia.”

Faktor penggunaan layar gawai ini juga terekam dalam makalah studi lain yang berjudul “The phenomenon of social isolation: The role of social media in the self-isolation tendencies of adolescents in Bengkulu Province”. Makalah studi ini ditulis oleh Muhammad Oktarianto, Rasianna BR Saragih, dan Neneng Cucu Marlina dari Universitas Bengkulu.

READ -  Menolak Pilkada Tidak Langsung: Tidak Senada dengan Esensi Demokrasi

“Penggunaan media sosial berkontribusi terhadap kecenderungan isolasi sosial pada remaja,” tulis para peneliti dalam makalah yang terbit di jurnal Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial pada April 2025. Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap para remaja di Provinsi Bengkulu. Mereka mengkaji hubungan antara penggunaan media sosial dan isolasi sosial pada remaja di provinsi tersebut.