Opini  

Coercive Control: Ketika Bahasa Menjadi Penjara dan Cinta Kehilangan Makna

jatiminfo.id
Ilustrasi: Foto Gemini AI.

Ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini terus mengganggu pikiran saya. Mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang menyakitkan? Mengapa ketika tubuhnya penuh luka, ia masih mengatakan bahwa ia mencintai orang yang melukainya? Mengapa orang-orang di sekitarnya justru sering berkata, “Kalau memang disiksa, kenapa tidak pergi saja?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya lahir dari cara pandang yang menganggap kekerasan selalu dimulai dari tangan yang memukul. Padahal, banyak penelitian psikologi justru menunjukkan bahwa kekerasan sering kali dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sunyi, yakni bahasa.

Belakangan, publik Indonesia dikejutkan oleh pemberitaan mengenai dugaan penganiayaan berat terhadap seorang perempuan oleh pasangan yang menjalin hubungan dengannya. Kasus itu menimbulkan kemarahan, simpati, sekaligus pertanyaan. Bagaimana mungkin seseorang mengalami kekerasan dalam waktu yang panjang tanpa mampu melepaskan diri? Sebagian orang buru-buru menyebut korban “terlalu bodoh”, “terlalu cinta”, atau “tidak punya keberanian”. Padahal, penjelasannya jauh lebih kompleks daripada sekadar keberanian atau kelemahan.

READ -  Membaca Pernyataan Rektor UTM dalam Perspektif Efektivitas Demokrasi

Dalam psikologi modern, keadaan semacam itu dikenal sebagai coercive control, istilah yang dipopulerkan oleh sosiolog Evan Stark (10 Maret 1942 – 18 Maret 2024). Berbeda dengan kekerasan yang hanya dipahami sebagai tindakan memukul, coercive control adalah pola dominasi yang sistematis. Tujuannya bukan hanya menyakiti tubuh, melainkan mengambil alih kebebasan seseorang sedikit demi sedikit hingga ia kehilangan kemampuan menentukan hidupnya sendiri. Yang menarik, alat utama dari dominasi itu bukan selalu kepalan tangan. Sering kali, alat pertamanya adalah kata-kata.