Opini  

Coercive Control: Ketika Bahasa Menjadi Penjara dan Cinta Kehilangan Makna

jatiminfo.id
Ilustrasi: Foto Gemini AI.

Saya kemudian teringat pada pepatah lama yang sering kita dengar sejak kecil bahwa “lidah lebih tajam daripada pedang.” Dulu saya menganggapnya hanya sebagai kiasan. Kini saya melihatnya sebagai kenyataan psikologis. Luka akibat pukulan mungkin dapat dijahit oleh dokter. Namun, luka akibat kata-kata sering kali tinggal jauh lebih lama. Ia menetap dalam ingatan. Ia muncul setiap kali seseorang bercermin. Ia berbicara dengan suara yang terdengar seperti suara kita sendiri, padahal sesungguhnya berasal dari orang lain yang pernah merendahkan kita.

Mungkin karena itulah Lev Vygotsky (1896–1934), seorang psikolog asal Rusia yang terkenal sebagai pelopor teori sosiokultural, menjelaskan bahwa bahasa yang kita dengar dari lingkungan perlahan berubah menjadi inner speech, percakapan batin yang membentuk cara kita memandang diri sendiri. Jika seseorang terus-menerus mendengar penghinaan, penghinaan itu akhirnya menjadi suara di dalam dirinya. Penjara paling kuat ternyata bukan yang dibangun dengan besi, melainkan yang dibangun dengan kata-kata.

READ -  Mitos yang Tidak Pernah Mati

Pada akhirnya, memahami coercive control mengajarkan kita satu hal penting: kekerasan tidak selalu berwujud lebam. Kadang-kadang ia hadir sebagai kalimat yang terdengar biasa, diucapkan berulang-ulang, hingga perlahan menghapus nama, harga diri, dan kebebasan seseorang. Oleh karena itu, pendidikan tentang relasi yang sehat tidak cukup mengajarkan bahwa memukul adalah salah. Kita juga perlu mengajarkan bahwa merendahkan, mengisolasi, memanipulasi, dan mengendalikan melalui bahasa adalah bentuk kekerasan yang tidak kalah berbahaya.