Opini  

Coercive Control: Ketika Bahasa Menjadi Penjara dan Cinta Kehilangan Makna

jatiminfo.id
Ilustrasi: Foto Gemini AI.

Kita sering menganggap bahasa hanya sebagai sarana menyampaikan pikiran. Padahal, bagi para ahli bahasa seperti John Langshaw Austin (1911–1960), bahasa juga merupakan tindakan. Dalam teori speech act, Austin menjelaskan bahwa ketika seseorang berbicara, ia tidak hanya mengatakan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu. Kalimat “Jangan keluar rumah!” bukan sekadar rangkaian bunyi. Ia adalah tindakan mengendalikan. Kalimat “Kamu tidak boleh bertemu teman-temanmu lagi,” bukan sekadar pendapat. Ia adalah upaya membatasi ruang sosial orang lain.

Begitu pula ketika seseorang terus-menerus mengatakan, “Kamu tidak berguna,” “Tidak akan ada yang mencintaimu selain aku,” atau “Kalau aku marah, itu karena kamu membuatku marah.” Kalimat-kalimat itu bukan sekadar penghinaan. Ia bekerja perlahan membangun kenyataan baru dalam pikiran korban.

READ -  Siapa yang Antidemokrasi? Ketika Tuntutan Keterbukaan Dijawab dengan Tuduhan Premanisme

Di sinilah teori Pierre Bourdieu (1930–2002) mengenai symbolic violence menjadi relevan. Kekerasan tidak selalu dilakukan dengan benda keras. Kata-kata pun dapat menjadi bentuk kekerasan simbolik ketika diterima terus-menerus hingga korban menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Yang paling berbahaya dari kekerasan simbolik adalah kenyataan bahwa korban akhirnya ikut mempercayai narasi yang dibangun pelaku. Seseorang yang setiap hari dipanggil “bodoh” akhirnya tidak lagi membutuhkan orang lain untuk merendahkannya. Ia akan merendahkan dirinya sendiri.

Psikologi menjelaskan fenomena ini melalui konsep “learned helplessness” yang diperkenalkan oleh Martin Seligman, Psikolog asal Amerika Serikat yang dikenal secara global sebagai “Bapak Psikologi Positif”. Dalam eksperimennya, Seligman menemukan bahwa individu yang terus-menerus mengalami penderitaan tanpa mampu menghindarinya akhirnya berhenti berusaha melarikan diri, bahkan ketika kesempatan itu sebenarnya tersedia. Fenomena serupa sering ditemukan pada korban kekerasan domestik.